June 2013
20 posts
Music composed by Nobuo Uematsu
Performed by Prague FILMharmonic Orchestra
Susan Cain (via skeletales)
[Yup, that about sums me up.]
(via wordpainting)
Mungkin, twitter citizen udah tau tentang twit Ustadz Felix Siauw tentang wacana kenaikan harga BBM, koreksi atas twit beliau yang ditulis oleh Romeo Gadungan, serta akun twitter Khilafah Baru yang menyebut Romeo Gadungan sebagai kafir karena mengoreksi Pak Ustadz.
Fenomena yang menarik sebetulnya.
Pertama, apa sih yang membuat Pak Ustadz segitu pedenya ngetwit tentang sesuatu yang berada di luar ekspertisnya?
Kedua, kenapa akun Khilafah Baru menyebut Romeo Gadungan itu kafir karena mengoreksi twit Pak Ustadz? Apakah seseorang yang mengoreksi secara ilmiah lantas disebut sebagai kafir begitu saja?
- Emak: Ibu hari ini ke Kepri ya.
- Gue: He eh.
- Emak: Ada acara blablabla. Habis itu ke Batam.
- Gue: Yaudah nanti jangan belanja apa-apa ya.
- Emak: Nggak kok, Ibu cuma mau beli....
- Gue: Jangan belanja.
Sembilan tahun sudah engkau menghuni surga. Bagaimana kabarmu?
Hari ini aku memperingati sembilan tahun kepergianmu. Di tengah hiruk pikuk Jakarta yang semakin padat, diiringi sumpah serapah akan kemacetan ibukota, aku berdoa untukmu. Semoga engkau betah di surga. Tenang lah, di sana tidak ada anak nakal seperti aku. Tidak ada Jakarta yang ramai, yang tidak pernah engkau sukai.
Baik-baik ya di surga, sampai jumpa suatu saat nanti.
Aku merindukanmu.
Maafkan aku karena belum sempat berbakti kepadamu.
- Gue: Indri ngajakin ke negaranya Foxy November nanti. Pinjen duit ya Mak.
- Emak: Yaudah sana deh pada liburan. Ibu ikut ya, tapi lewat Batam.
- Gue: Ke Batam pasti mau belanja kan? Aku sama Indri nanti nggak nginep. Flight pagi, malemnya naik kereta ke negaranya Dan Khoo.
- Emak: Astaghfirullah anak muda ya. Itu nggak capek kamu?
- Gue: Ya kan biar ngirit, tidurnya di kereta.
- Emak: Mending kita liburan yang bener ke Thailand.
- Gue: Kalau sama Ibu mah judulnya nemenin belanja, bukan jalan-jalan.
Saya terharu banget baca reply dari post yang ini.
Alhamdulillah, terima kasih ya Ivy, Senpai Dion, Ibel, Fitya, Thantowy dan KanjengRobot.
Semoga Allah selalu memberi kemudahan untuk kalian :’)
“Memang terkadang kita nggak bisa terlalu idealis, Fit. Kadang, kita juga harus realistis sama constraint yang ada. Kali ini constraint-nya waktu. Proposal ini kamu simpan aja, kalau kamu nanti dapet scholarship untuk S3, baru kamu lanjutkan.”
Mendengar kata-kata Pak Dosen pagi itu gue mau nangis. Bukan mau lagi sih, tepatnya gue memang beneran menangis. Keluar dari ruang bimbingan, gue langsung ngibrit ke toilet. Lalu duduk di atas kloset, menangis sesenggukan layaknya seorang gadis lemah habis diputusin pacar. Tapi serius deh, ini rasanya jauh lebih menyedihkan daripada diputusin pacar.
Tesis gue nggak bisa dilanjutkan. Jumat pagi itu, setelah menunggu selama tiga minggu untuk bimbingan, gue dan Pak Dosen sama-sama sepakat untuk melakukan turn-over. Kendalanya satu: waktu. Pengujian Dynamic Effect, segala variabel super bebas dengan risiko sistematis dan blablabla itu akan memakan waktu cukup lama. Mulai dari mengumpulkan data, melakukan segala uji asumsi, uji model dan blablabla. Variabel intervening yang gue masukkan cukup banyak. Mungkin dari awal gue terlalu ngoyo kali ya, sampai lupa kalau ada batasan waktu untuk menyelesaikan tesis.
Gue selalu berpikir bahwa skripsi, tesis, disertasi, semua jenis karya ilmiah itu harus menyajikan sesuatu yang baru. Sesuatu yang sebelumnya belum pernah ada. Sesuatu yang benar-benar memperluas cakrawala keilmuan. Berbekal idealisme ini, gue mengajukan sebuah proposal tesis yang akan menguji bagaimana efek volatilitas (yang selanjutnya diberi nama Dynamic Effect oleh Pak Dosen) dari harga komoditas, Risk Market, Risk Free, volume penjualan dan revenue cost perusahaan terhadap nilai perusahaan. Ide ini sebenarnya merupakan adaptasi dari model NPV at Risk. Lalu gue coba mengubah model NPV at Risk ini untuk Corporate Valuation.
Dalam proposal tesis ini, gue juga menggagas penghitungan default probability menggunakan Merton Model. Selama ini default probability hampir selalu dihitung menggunakan model Altman Z-Score. Gue memiliki argumen bahwa model Altman ini tidak menyertakan aspek market risk. Padahal, sebenarnya salah satu penentu sehat atau tidaknya perusahaan adalah posisi saham perusahaan di bursa. Merton Model memasukkan unsur volatilitas market yang tidak tergambar di model Altman ini.
Okay, nggak ada gunanya juga membahas proposal tesis ini. Lemabaran-lembaran proposal tesis tentang Dynamic Effect ini sudah berakhir di tempat sampah.
Lalu, demi lulus dari kampus yang sudah gue diami selama hampir lima tahun ini, gue akan menulis sebuah tesis yang sangat-sangat mainstream dan memungkinkan untuk diselesaikan tepat waktu: Value Enhancement. Gue belum pernah membuat karya ilmiah tentang Value Enhancement ini. Tapi Pak Dosen sendiri bilang bahwa ini termasuk topik tesis yang mudah. Jadi seharusnya gue dapat menyelesaikannya dalam jangka waktu yang telah ditetapkan tanpa kendala yang berarti.
Baiklah, seperti yang selalu didengungkan oleh orang bijak, selalu ada silver lining bahkan pada awan yang gelap. Dalam keterpurukan ini pun gue berusaha mencari silver lining tersebut.
Pertama, gue menyadari bahwa kayaknya memang gue agak sinting. Sulit sekali mencari jurnal yang mirip-mirip dengan pengujian Dynamic Effect ini. Bahkan gak ada kayaknya. Kebanyakan jurnal yang gue temukan hanya seputar NPV at Risk dan Merton Model doang. Artinya, yah, kalau mau bikin riset harus menjejak bumi, jangan terlalu mengangkasa.
Kedua, ditengah pencarian literatur gue menemukan sebuah jurnal tentang efek implementasi ERM (Enterprise Risk Management) terhadap enterprise value yang diukur menggunakan Tobin’s Q. Serius deh, ini jurnal benar-benar menarik. Membaca jurnal ini gue jadi tau kalau sampai saat ini belum ada model atau hasil riset yang dapat menggambarkan bagaimana efek implementasi ERM terhadap enterprise value. Kalau kata textbook sih, penerapan ERM akan meningkatkan enterprise value. Tapi, belum ada riset yang benar-benar membuktikan hal ini. Selama ini riset dengan tajuk tersebut hanya menjadikan ERM sebagai dummy variable, belum bisa memetakan bagaimana proses enterprise value itu bisa meningkat akibat adanya implementasi ERM. Gue jadi tertarik untuk mengembangkan riset ini sebenarnya. Gue ingin bisa mempreteli aspek apa saja yang perlu diperhitungkan untuk bisa membuktikan bahwa penerapan ERM berbanding lurus dengan enterprise value.
Ketiga, gue jadi belajar gimana caranya nyusun model buat melakukan simulasi Monte Carlo. Hehe, meski nggak jadi dipake model simulasinya, gue tetap senang bisa belajar hal baru.
- Aldrin: I love you, Dira.
- Dira: Wow. Me? Why?
- Aldrin: Why not?
I haven’t share anything lately, so… here’s a little update about my personal life.
Layaknya mahasiswa yang lagi tugas akhir, gue pun menjadi setengah pengangguran. Nggak ada kerjaan lain selain ngerjain tesis (dan satu riset kurang kerjaan bersama dua orang teman gue).
Selain ngerjain tesis dan riset kurang kerjaan, gue sedang membaca Titik Nol (Agustinus Wibowo) setelah sebelumnya gue telah berhasil menamatkan The Fault In Our Stars (John Green). Terus gue juga lagi suka nonton film pendek di youtube, di channel Grim Film atau Jinny Boy TV. Kadang gue juga suka nonton film pendek unyu-unyu berbahasa Thailand yang nggak ada substitle-nya tapi tetap bisa dimengerti maknan filmnya apa. Terus gue juga uska nonton sitkom bikinan Amerika, The Big Bang Theory. Sudah beberapa minggu ini gue marathon serial itu dari season pertama.
Okay, kehidupan gue emang useless banget sepertinya. Hanya membaca novel dan nonton. Sebenarnya gue ingin belajar desain lebih serius, sama belajar bikin film. Entah kenapa kayaknya keren aja kalau suatu saat nanti gue bisa bikin film kayak film-film pendek di channel Grim Film.
Okay, mungkin nanti kalau gue sudah punya sumber daya yang cukup untuk merealisasikan mimpi gue.