Pagi ini aku terjaga,
usai bermimpi akan dirimu.
Aku sudah bangun,
lantas kapan kah engkau kan jadi nyata?
Where Have You Been?
May, 4th 2012
From: indira.faiza@yahoomail.com
To: aldrin_4869@googlemail.com
Subject: RE: Where have you been?
Jambul? Seriusan ini lo Mbul? SERIUS?!
Ya Allah, Alhamdulillah akhirnya makhluk-Mu ini merespon email saya *menangis bahagia* T_T
Suer ini gue nangis loh Mbul, di depan laptop. Hahaha… lebay banget ya gue?
Baiklah, baiklah. Lo ke mana aja sih Aldrin? Kenapa sekarang baru kasih kabar? Lo nggak kangen apa sama gue, haaa? Nggak kangen sama Dira Gendut ini, Mbul?
Ngaku deh, lo di mana? Gak mungkin banget lo menghilang diculik alien. Mana ada alien di Indonesia? Apalagi di Jakarta. Mungkin kalau lo bilang bahwa lo diculik buto ijo baru deh gue percaya.
Mbul, YM atau GTalk lo aktifin kek, kita chat di situ aja Mbul.
Peluk cium kangen,
Indira
_________________________
GAGA(L)
- (Via Twitter)
- News: Lady Gaga nggak jadi ke Indonesia
- Bu Dosen: Padahal saya suka Lady Gaga. Yaaahhhh :(
- Saya: Nonton ke Sinagpura aja Bu :D
- Bu Dosen: Nggak bisa ke Sing :( Banyak rapat :( Bahkan Kamis malam saya harus pergi :(
- Saya: #pukpukbuxxxxxx :")
- FYI: Ibu Dosen yang satu ini sudah emak-emak, berusia sekitar 50 tahun, tapi masih doyan baca One Piece, Kungfu Boy, nonton film di bioskop, main game, dan merupakan seorang penggemar berat Iron Maiden.
Ranselmu berwarna hitam,
dengan sebuah gantungan kunci
berwarna merah.
Ditengkukmu ada tahi lalat
berdiameter satu milimeter.
Ketika engkau berjalan,
terkadang kedua tanganmu kau masukkan ke dalam saku.
Sesekali, engkau menggaruk bagian belakang kepalamu.
Sesekali, engkau menoleh ke belakang,
dan saat itulah kau akan menemukan
aku.
Where Have You Been?
May, 4th 2012
From : aldrin_4869@googlemail.com
To: indira.faiza@yahoomail.com
Subject: RE: Where have you been?
Dira,
Kalau gue bilang gue menghilang karena diculik alien, lo percaya nggak?
Regards,
Aldrin The Alien
________________________
Reblog with your school. Be proud.
- matangdilat: Divine Light Academy Las Pinas.
- wondergilou: Polytechnic university of the Philippines.
- sarcasticsandra: Canossa Academy Calamba.
- urlnimegan: Canossa College San Pablo City.
- aikaaholic: University of Santo Tomas.
- cookiecaramel: Assumption College Makati.
- mandalawangi: Nur Hidayah Integrated Islamic Senior High School
- nnndaru: TK Bhayangkari Pemalang Indonesia
- belindch: Gadjahmada University, Indonesia
- masgun : Bandung Institute of Technology , Indonesia
- yustinputri: Universitas Sriwijaya, Indonesia.
- enggarwardhani: Sriwijaya University, Indonesia
- achmadlutfi: Ostfalia University of Applied Sciences
- tazy: Ghent University, Belgium
- fitrisafira: PPM School of Management, Jakarta
Where Have You Been?
May, 2nd 2012
From: indira.faiza@yahoomail.com
To: aldrin_4869@googlemail.com
Subject: Where have you been, Mbul?
Jambul, lo masih belum bisa merespon email gue juga? Anyway gue memutuskan untuk berhenti mengirimi lo SMS dan mencoba menelepon lo. Maaf ya Mbul, gue berhipotesis nomor lo sudah nggak lagi aktif karena begitulah kata Mbak-mbak operator tiap kali gue telepon lo. Lo ada di mana sih Mbul? Tiba-tiba menghilang gini. Asal jangan kayak Bang Toyib aja lo, Mbul. Hehehe…
Mbul, gue galau nih.
Gue tau seandainya percakapan ini terjadi di YM, GTalk ataupun BBM, respon pasti akan seperti ini: *bersiap menampar Dira bolak-balik*
Iya Mbul, tampar gue, Mbul, tampar. Sok.
Terus, baris chat berikutnya akan berbunyi seperti ini: “Lo galau kenapa lagiiii siiih Diraaaa genduut?”
Gini Mbul, lo masih inget Dion kan? Cowok dari jurusan sebelah yang pernah gue certain itu. Hahaha, asli makin ganteng aja dia Mbul! Belakangan ini gue sering bertemu dia di kafetaria, pas makan siang. Haduh untung gue udah jomblo dan available. Jadi kalau suatu hari nanti dia nembak gue, gue bisa bilang iya. Mau banget deh gue Mbuuul punya suami Dion. Ganteng, alim, pinter pula. Gue yakin Emak gue juga pasti akan memandang Dion sebagai menantu idaman.
Menurut lo gimana Mbul? :D
Anyway, gue udah baikan sama seksi publikasi. Untung banget yah Mbuuuul, ada perusahaan multinational yang mau jadi sponsor kita dan memberikan suntikan dana segar. Terus si seksi publikasi juga akhirnya ngaku kalau emang dia yang overstepping, main cetak poster gitu aja tanpa persetujuan gue. Dan akhirnya dia bersedia tanggung jawab benerin posternya plus menanggung 25% biaya cetak ulang poster. Alhamdulillah banget Mbul, tim gue udah kembali kompak dan solid. Doain ya Mbul, semoga acara Marketing Day gue berjalan lancar, tanggal 13 Mei nanti.
Biasanya lo akan merespon seperti ini kalau gue minta didoain: “Semangat, Diraaa!!! Gue yakin lo bisa. Banyak-banyak sholat sunnah cuy! Bangun tengah malem, tahajjud. Jangan tidur terus, Ndut.”
OK Mbul, kayaknya taraf kangen gue sama lo mulai mengkhawatirkan. Gue mulai berkhayal akan keberadaan lo. Gue mulai berimajinasi bahwa lo nggak ke mana-mana. Lo di sini. Selalu di sini, buat gue. Seperti hari-hari, bulan-bulan, tahun-tahun sebelumnya. Lo selalu membalas chat gue, SMS gue, BBM gue, selalu nyautin telepon gue.
Dan sekarang lo menghilang… gue kangen lo, Mbul.
Gue mulai berhalusinasi akan sosok lo, seperti Izzie Stevens berhalusinasi akan sosok Danny dalam serial Grey’s Anatomy season kelima.
Iya Mbul, iya… gue lebay. Dan memang faktanya gue menggendut.
Regards,
Your very fat friend.
Where Have You Been?
Dulu, saya suka sekali menulis cerpen. Paling produktif semasa SMP. Kumpulan cerpen saya sempat diikutsertakan pada pameran sekolah penyelenggara kelas akselerasi delapan tahun silam. Bahkan sempat dimuat di sebuah majalah.
Memasuki masa SMA, saya jarang menulis cerpen. Namun tetap ada beberapa karya fiksi yang saya hasilkan. Sebagian selesai, dan saya kumpulkan sebagai tugas Bahasa Indonesia. Sebagian belum selesai dan entah kapan akan saya garap kembali.
Sekarang, saya bertekad untuk menulis lagi, dimulai dengan membuat karya fiksi “Where Have You Been?”.
Kisah ini bercerita tentang Indira, seorang mahasiswi yang tiba-tiba kehilangan kontak dengan sahabatnya, Aldrin, yang biasa ia panggil Jambul. Panggilan ini muncul karena gaya rambut Aldrin yang memang berjambul, seperti Lupus.
Indira dan Aldrin sudah bersahabat cukup lama, sejak hari pertama mereka di SMA. Keduanya melanjutkan kuliah pada lembaga pendidikan yang berbeda. Aldrin adalah mahasiswa jurusan Hubungan Internasional pada sebuah universitas negeri. Sementara Indira adalah mahasiswa Marketing & Communication pada sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta.
Sehari sebelum Indira berulang tahun, Aldrin menghilang. Indira yang merasa kesepian akhirnya mengirim email pada Aldrin. Berharap emailnya akan mendapat respon dari Aldrin. Berharap bahwa Aldrin akan kembali.
Where Have You Been?
April, 27th 2012
From: indira.faiza@yahoomail.com
To: aldrin_4869@googlemail.com
Subject: Where have you been Jambul-ku? T_T
Gue sekarang jadi kayak mayat hidup, Mbul. Gue semakin merasa hampa karena nggak ada lo. Mungkin tinggal tunggu waktu sampai gue berakhir di bangsal psikiatri RSCM. *amit-amit* (BTW, biasanya lo akan merespon kalimat macam ini dengan “DIRA JANGAN LEBAY DEH LO! MAKIN GENDUT TAU RASA!” dan FYI, berat badan gue naik jadi 62 Kg nih Mbul.)
Tapi serius Mbul, ketidakhadiran lo dalam hidup gue membuat sistem kehidupan gue sehari-hari agak berantakan. Biasanya, setiap hari gue selalu curcol apapun ke elo. Dan lo selalu sabar mendengarkan serta merespon curhat sampah gue setiap hari. Tapi sekarang lo diam Mbul. Gue kesepian. Gue kangen mendengar suara lo, atau sekedar membaca baris demi baris chat dari lo di fitur IM.
Hari ini gue bertemu dengan mantan gue. Dia bilang gue ini seperti kacang yang lupa sama kulitnya. Dia bilang gue ini jahat banget karena gue sudah melupakan that-jerky-ass yang selama ini telah care sama gue. Care, katanya Mbul. C-A-R-E. Gue yakin pasti ada yang salah sama otaknya.
Lo masih inget kan Mbul, waktu gue curhat menye-menye di telepon pas gue baru saja mutusin dia? Dan lo bilang bahwa sejujurnya lo senang gue putus sama dia. Tapi waktu itu gue masih aja batu dan melabeli diri gue jahat sementara lo keukeh bahwa it was the right thing to do. Gue terlalu baik untuk jerky-ass macam dia, begitu ujar lo. Gue juga masih ingat betapa lo bilang gue ini pantas dapat nilai F dalam hal percintaan karena masih mempertahankan pria yang sudah menyelingkuhi gue.
Mbul, hari ini adalah hari paling buruk selama tahun 2012. Tim gue berantakan, Mbul. Lo masih inget kan, bulan lalu kelas gue dapet tugas untuk bikin event Marketing Day? Dan lo tentu masih inget tentang betapa gue kecewa level: Asian, karena gue mau jadi seksi publikasi dan dokumentasi, tapi malah ditumbalin sama temen-temen gue buat jadi ketua?
Gue masih inget, waktu itu lo bilang ke gue bahwa seharusnya gue bersyukur, justru dengan ini gue bisa belajar untuk jadi pemimpin dan keluar dari zona nyaman gue. Ini adalah kesempatan gue untuk tumbuh dan berkembang. Mendengar nasihat dari lo, gue pun termotivasi untuk menjalankan amanah ini dengan sebaik-baiknya.
Seumur hidup, gue nggak pernah menjadi ketua. Gue selalu suka dan selalu merasa nyaman menjadi orang yang bekerja dibalik layar, menjadi follower yang baik dan membantu leader mencapai tujuan. Tapi sekarang gue yang jadi leader. Yang gue tau, a leader should control.
Hari ini seksi publikasi kasih gue hasil cetak poster untuk acara Marketing Day itu, Mbul. Gue tercengang dong. Sebelumnya dia nggak pernah submit ke gue desain posternya. Gue terus nagih, dan dia bilang hari ini akan kasih apa yang gue minta itu. Terus, jeng-jeng-jeng…, tau-tau dia datang ke gue bawa poster satu rim. Dan pas gue lihat, ada yang janggal di poster itu. Dia salah ngetik tanggal acara di poster.
Gue bilang dia harus tanggung jawab. Dia harus ganti posternya dengan tanggal yang betul. Gue melarang bendahara buat mengganti biaya cetak poster yang salah itu. Dan si seksi publikasi malah bilang gue jahat dan nggak menghargai inisiatif dia. Gue tetap bersikeras bahwa seksi publikasi yang nggak bener kerjanya. Ceroboh. Main cetak gitu aja tanpa permission dari gue sebagai ketua. Terus dia malah menyalahkan gue karena gue terlalu kaku lah, karena gue nggak sabaran lah dan sebagainya. Intinya dia bilang bahwa gue adalah ketua yang buruk.
Ujung-ujungnya, gue perang dingin sama seksi publikasi.
Duh Mbul, gue paling males kayak gini nih. Berantem sama tim gue sendiri. Tapi emang dia-nya yang salah kan Mbul? Dan gue juga nggak salah kan kalau gue minta dia buat tanggung jawab?
Gue harus ngapain dong Mbul? :(
Regards,
Indira, yang sedang madesu.
Gurita Kecil
Gurita Kecil tengah asyik bersantai pada sebuah deretan coral reef. Di sekitarnya, kehidupan laut begitu bahagia. Ikan-ikan penguhuni laut lainnya hilir mudik ke sana kemari, mencari organisme mikroskopis sebagai sarapan pagi mereka. Sinar matahari yang teduh menyinari pagi yang damai di negeri bawah laut itu. Sesekali terlihat segerombolan anak laki-laki tengah berenang sambil menangkap beberapa ikan hias untuk dibudidayakan. Meski anak-anak ini menangkap teman-teman Gurita Kecil, ia tidak pernah merasa keberatan akan hal itu. Karena, anak-anak ini menangkap teman-temannya dengan menggunakan jaring biasa. Selain itu, setiap awal bulan, anak-anak laki-laki pesisir ini akan menanam koral baru di sekitar rumah Gurita Kecil.
Sungguh sebuah kehidupan yang damai nan menyenangkan.
Ketika matahari mulai meninggi, terlihat sebuah siluet kapal nelayan. Gurita Kecil takut melihat melihat siluet ini. Ia takut jika nantinya, ia akan bernasib seperti kedua orang tuanya. Terbunuh oleh nelayan yang berburu ikan dengan tombak yang tajam.
Dua orang dengan tabung oksigen dipunggungnya turun, menyelam, menilik rumah tempat Gurita Kecil dan teman-temannya tinggal. Mereka membawa beberapa botol kaca berisi kerikil yang tercampur dengan serbuk-serbuk kimia. Mereka menyelipkan botol-botol tersebut di dekat karang tempat teman-teman gurita kecil biasa bermain. Sedetik kemudian, kedua nelayan tak bertanggung jawab itu telah berenang menuju permukaan laut.
Gurita kecil merasa semakin takut. Ia yakin bahwa botol-botol itu adalah dinamit yang dirakit sendiri oleh nelayan-nelayan itu. Sejurus kemudian, asap keruh mulai keluar dari mulut botol. Kemudian, BLAR!! Dinamit itu pun meledak.
Seisi laut berguncang. Gurita Kecil berpegangan erat-erat pada koral dengan anemon berwarna pink diatasnya. Saking takutnya, ia sampai menutup kedua matanya.
Ketia ia membuka kedua matanya, laut yang tadinya bersih, dengan nuansa air yang biru dan tenang telah hilang dalam sekejap. Yang tersisa hanyalah riak-riak air berwarna coklat kekuningan dan siluet teman-teman Gurita kecil yang mengambang di permukaan air. Di sekitar coral reef tergeletak teman-temannya yang lain, lemah, tak sadarkan diri.
Betapa campuran dari pottasium nitrat, amonium nitrat, dan kerosene telah menghancurkan kehidupan laut yang damai. Deretan anemon laut yang cantik kini tak lagi bergerak anggun mengikuti riak air laut, kini mereka hanya terkulai tak berdaya dengan warna cerah mereka yang telah pudar.
Gurita Kecil terisak melihat semua ini. Keegoisan manusia telah merenggut kehidupannya di laut ini. Perlahan, ia menghapus air matanya. Kemudian ia melepaskan ikatan tentakel-tentakelnya pada deretan koral tempat ia bersembunyi.
”Selamat tinggal, teman-temanku.”
Gurita Kecil pergi meninggalkan lautnya yang telah rusak. Ia mengayunkan tentakel-tentakelnya, mencari sebuah rumah baru yang lebih aman.


