Obrolan Meja Makan

  • Gue: Aku mau sekolah lagi, tapi agak susah nih cari sekolahnya.
  • Ibu: Emang maunya ke mana?
  • Gue: Belanda.
  • Ibu: Ke Utrecht aja, atau Wageningen.
  • Gue: Nyeh, itu mah desa tempat Ibu sekolah dulu.
  • Ibu: Ke Australia aja deh, atau nggak Singapore.
  • Gue: Disarankan dosen aku ke Eropa. Ibu takut ditinggal jauh-jauh ya?
  • Ibu: Engga, Ti mau ke manapun Ibu dukung.

Akhir pekan ini, alih-alih ngurusin kerjaan, gue malah browsing tentang universitas yang menyediakan program Behavioral Science atau Organizational Science yang research based dan tergabung dalam kelompok universitas tujuan buat beasiswa LPDP. Kebanyakan universitas di Londo punya persyaratan bahwa pelamar harus punya gelar sarjana dari program ilmu sosial. Macemnya psikologi, sosiologi, antropologi, dan sejenisnya.

Agak sedih karena duluuuu banget pas lulus SMA gue maunya sekolah sosiologi. Tapi bapake malah masukin gue ke sekolah dagang. Sekarang mau sekolah behavioral/organizational science jadi agak susah.

Tapi yaa harus bersyukur juga, Allah sudah menunjukkan jalan. Semester ini gue lebih banyak ngajar Organizational Behavior daripada mata kuliah keuangan. Saatnya menggali ilmu sedalam-dalamnya, kembali menekuni riset yang terbengkalai, dan belajar IELTS tentunya.

Kalau dipikir-pikir, “murah” banget ya gue, rela nunggu enam tahun buat kembali menapaki jalur hidup yang gue inginkan. Tapi ya udah, orang tua gue sudah puas anaknya nurut mau sekolah dagang sampai lima tahun lamanya. Sekarang saatnya memenuhi ambisi pribadi untuk sekolah behavioral science.

Bismillahirrahmanirrahim, semoga Allah meridhai.

I saw two kittens on my way to school. They just sat there, in the middle of the street, looking at people passing by. I wonder how it feels to be those kittens. – View on Path.

I saw two kittens on my way to school. They just sat there, in the middle of the street, looking at people passing by. I wonder how it feels to be those kittens. – View on Path.

Anyway, semester ini gue mendapat amanah untuk ngajar Organizational Behavior. Tentu saja aku senang bukan kepalang. Mungkin ini adalah reminder dari Sang Maha untuk terus konsisten mempersiapkan diri buat daftar sekolah Behavioral Science. Heheee. :))

Dua Ekor Lobster dan Dua Gelas Ocha

Gue pernah keracunan sushi. Literally keracunan sampai harus masuk UGD dan cabut sekolah selama dua hari. Sejak itu, setiap kali diajak makan ke restoran sushi, gue tidak pernah lagi makan sushi yang mentah. Trauma, cuy. Gue selalu pesan yang matang atau pesen ramen, udon, bahkan … nasi goreng. Sebuah anomali memang, masuk ke restoran sushi dan memesan nasi goreng. Pertama kalinya gue makan ikan mentah lagi adalah pada hari ulang tahun gue yang ke 23.

Boleh dibilang, ulang tahun ke 23 adalah ulang tahun paling sepi sepanjang sejarah gue hidup. Namun demikian, meski ulang tahun ke 23 tersebut berasa sepi nan krik-krik, itu adalah ulang tahun paling bermakna. 16 April 2014, hari gue datar-datar aja. Gue sedang ikut training TOT waktu itu. Habis training, Ninda si adik bungsu memberikan gue pie susu dengan bendera kecil yang dibuat dari post-it bertuliskan angka 23. Habis maghrib, gue janji bertemu dengan Delonski di PI. Gue janji mau traktir dia makan sushi.

Karena cuma berdua, kita duduk di bar. Dua ekor lobster yang sedang berenang di akuarium kecil menjadi pemandangan kita malam itu. Karena ulang tahun, gue dapat sepiring sushi-entah-apa-namanya berikut dengan beberapa iris salmon mentah. Gue memesan udon pakai jamur dan tahu. Delon memesan nasi pakai daging sapi yang dimasak ala Jepang. Minumnya? Tentu saja dua gelas ocha yang bisa diisi ulang sesuka hati.

Sambil ngeliatin lobster, kita ngobrol soal bagaimana kondisi perekonomian terkini, kabar kampus tercinta, kabar mantan kita yang sudah bersama orang lain, dan kabar masa depan kita.

Gue sekarang paham kenapa patung The Thinker bentuknya kayak gitu: duduk, tangan meopang dagu, lalu pandangan entah melihat apa. Berpikir (atau berkontemplasi) memang enaknya dilakukan dengan gaya seperti itu. Hahaha. Seperti malam absurd di Sushi Tei waktu itu, kita berdua duduk, tangan menopang dagu, pandangan melihat ke lobster yang sedang berenang sementara pikiran menjelajah setiap sudut frontal lobe.

Buat introvert macam gue, suasana seperti itu menjadi katalis bagi munculnya dopamine secara berlebihan. Besoknya hidup tiba-tiba menjadi tidak semonoton biasanya. Optimisme hidup kembali diperoleh, pengingat untuk kembali ke jalan yang benar pun didapat. Obrolan hasil kontemplasi selalu membuat kita tersadar bahwa kita masih diam di tempat. Orang lain sudah menjelajah kemana-mana, dan kita masih di sini aja. Orang lain sudah berbuat hal besar, sementara kita masih diam di Sushi Tei sambil ngeliatin lobster berenang. Obrolan macam ini lah yang kemudian menyulut semangat hidup. Meski cuma sesaat. Hahaha.

Persahabatan gue dan Delonski memang sedikit aneh. Kita berdua adalah manusia yang benar-benar berbeda. Delonski adalah Tionghoa murni yang tinggal di Indonesia. Sementara gue adalah produk dari campuran ras Kaukasian, Mongoloid dan Melayu. Delon adalah mantan agnostic yang kini menjelma sebagai seorang pengikut Yesus yang setia, kontras dengan gue yang… yah, dari nama gue sudah terlihat identitas kepercayaan gue.

Gue menduga bahwa kita bisa berkontemplasi bersama seperti ini karena kita percaya satu sama lain dan kita mau terbuka. Terbuka akan pandangan satu sama lain. Terbuka akan jalan hidup masing-masing. Terbuka akan filsafat hidup masing-masing. Tanpa ada penilaian terhadap apa yang diyakini oleh diri masing-masing. Hubungan pertemanan kita minim drama, kecuali pada saat Delonski stres bukan main pas dia masih kerja di sekuritas. Hahaha. I kinda lost my buddy at that time.  

 

If people could see me the way I see myself - if they could live in my memories - would anyone love me?
John Green (via kushandwizdom)

In a small group, the extrovert got all of the attention. Then there’s me, being unnoticed. Sometimes, I hate being an introvert. For the inability to express what I really want to show, to articulate what I really want to say. 

Mencari Bentuk

Kalau orang-orang baru mulai libur hari Jumat, sejak Rabu gue udah bolos kerja. Yep. Bolos kerja. Sampai Pak Direktur nyuruh sekretarisnya hubungin gue, karena tiba-tiba gue menghilang. Mungkin dia kangen kali ya sama gue, biasanya siang-siang kita suka ngobrol random.

Rabu kemarin, pikiran gue benar-benar dangkal. Udah nggak semangat kerja, ya udah lah di rumah aja. Sesimpel itu.

Anyway, terlepas dari bolosnya gue sejak hari Rabu, gue sedang dalam tahap menyusun rencana kehidupan (lagi). Sempat terpikir untuk resign setelah OJT. Gue pun mengirim lamaran pekerjaan ke UMN dan Prasmul. I know this sounds crazy.

Kamis kemarin gue dipanggil UMN untuk interview dan tes ngajar. Gue juga ketemu Arif yang udah duluan jadi dosen di UMN. Singkat kata, UMN ini masih mencari bentuk. Lebih spesifik, FE UMN ini masih belum jelas mau dibawa kemana. Mau diarahkan untuk mencetak akademisi atau professional. Kebanyakan dosen UMN adalah lulusan UI yang (kayaknya sih) teoritis abis dan nggak familiar dengan riset terapan. Melalui Arif, gue jadi mendapat informasi bahwa di UMN sebenarnya posisi tawar gue cukup tinggi. UMN (katanya) hanya punya satu dosen finance tetap.

Gue suka dengan suasana kampus UMN. Arif ke kampus bisa pakai sepatu kanvas. Asik banget. Yang nggak asik dari UMN adalah: lokasinya jauuuh banget dari peradaban dunia. Di Serpong. Itupun bukan di pusat kotanya. Wilayah di sekitar UMN masih berupa padang rumput yang luas atau ruko-ruko baru jadi yang masih belum terisi.

Singkat cerita sih, melamar ke UMN membuka mata gue lebih lebar. Kayaknya kegundahan gue selama ini disebabkan karena gue kurang pandai cari tantangan baru yang menarik. Makanya PPM jadi membosankan banget. Padahal, dibandingkan dengan UMN, PPM jauuuh lebih baik. Akses ke jurnal terbuka 24 jam dari mana saja. Mau riset, banyak data sudah tersedia, tinggal diolah saja.

…tapi lingkungan kerjanya kaku dan menyebalkan. Oke, ini mengacaukan segalanya. Coba kalau ke kampus boleh pakai kemeja dan celana jeans lalu pakai sepatu kanvas. Kecuali kalau harus ke klien, ya harus pakai baju rapi layaknya business outfit.

Berkaitan dengan pekerjaan, pertengahan tahun ini ada penilaian kinerja. Hasilnya? Gue nggak achieve. Tapi yaudah bodo amat. Gue nggak peduli. Penilaian kinerja di sini hanya mengukur seberapa banyak lo kasih pendapatan buat PPM. Jadi yaudah gue bodo amat karena gue nggak peduli dengan hal itu. Yang gue peduliin adalah: riset gue sudah lama terbengkalai akibat waktu kerja gue banyak tersita untuk pergi ke klien. Action plan gue demi bisa sekolah lagi juga terabaikan. Rasanya berdosa dan sedih sekali. Wajar jika gue gundah dan begini-begini aja.  

Gue sempat ngobrol ngalor ngidul soal studi S3 sama Prof H. tepatnya, dia yang tiba-tiba cerita tentang bagaimana studi S3 itu. Gue banyak mendapat insight dari dia. Menurut Prof H, buat S3 nggak perlu cari sekolah yang TOP, tapi cari sekolah di Eropa, yang bagus tapi nyantai. Biar bisa jalan-jalan. Setahun sebelum sekolah, harus sudah punya proposal dan punya professor yang bersedia membimbing. Lalu cari topik riset yang bisa menjawab problem di Indonesia, dan kita punya akses untuk mengaplikasikan hasil riset kita.

Gue sendiri juga bimbang sih, haruskah gue pursue S3 atau ambil second master dulu? Mengingat gue masih sangat kroco dan dangkal. Seperti UMN, gue pun masih mencari bentuk. 

The girl with random thoughts.
Stalk her at @fitrisafira.

twitter.com/fitrisafira

view archive



aksara.pictura

Ask Fitri