Anyway, semester ini gue mendapat amanah untuk ngajar Organizational Behavior. Tentu saja aku senang bukan kepalang. Mungkin ini adalah reminder dari Sang Maha untuk terus konsisten mempersiapkan diri buat daftar sekolah Behavioral Science. Heheee. :))

Dua Ekor Lobster dan Dua Gelas Ocha

Gue pernah keracunan sushi. Literally keracunan sampai harus masuk UGD dan cabut sekolah selama dua hari. Sejak itu, setiap kali diajak makan ke restoran sushi, gue tidak pernah lagi makan sushi yang mentah. Trauma, cuy. Gue selalu pesan yang matang atau pesen ramen, udon, bahkan … nasi goreng. Sebuah anomali memang, masuk ke restoran sushi dan memesan nasi goreng. Pertama kalinya gue makan ikan mentah lagi adalah pada hari ulang tahun gue yang ke 23.

Boleh dibilang, ulang tahun ke 23 adalah ulang tahun paling sepi sepanjang sejarah gue hidup. Namun demikian, meski ulang tahun ke 23 tersebut berasa sepi nan krik-krik, itu adalah ulang tahun paling bermakna. 16 April 2014, hari gue datar-datar aja. Gue sedang ikut training TOT waktu itu. Habis training, Ninda si adik bungsu memberikan gue pie susu dengan bendera kecil yang dibuat dari post-it bertuliskan angka 23. Habis maghrib, gue janji bertemu dengan Delonski di PI. Gue janji mau traktir dia makan sushi.

Karena cuma berdua, kita duduk di bar. Dua ekor lobster yang sedang berenang di akuarium kecil menjadi pemandangan kita malam itu. Karena ulang tahun, gue dapat sepiring sushi-entah-apa-namanya berikut dengan beberapa iris salmon mentah. Gue memesan udon pakai jamur dan tahu. Delon memesan nasi pakai daging sapi yang dimasak ala Jepang. Minumnya? Tentu saja dua gelas ocha yang bisa diisi ulang sesuka hati.

Sambil ngeliatin lobster, kita ngobrol soal bagaimana kondisi perekonomian terkini, kabar kampus tercinta, kabar mantan kita yang sudah bersama orang lain, dan kabar masa depan kita.

Gue sekarang paham kenapa patung The Thinker bentuknya kayak gitu: duduk, tangan meopang dagu, lalu pandangan entah melihat apa. Berpikir (atau berkontemplasi) memang enaknya dilakukan dengan gaya seperti itu. Hahaha. Seperti malam absurd di Sushi Tei waktu itu, kita berdua duduk, tangan menopang dagu, pandangan melihat ke lobster yang sedang berenang sementara pikiran menjelajah setiap sudut frontal lobe.

Buat introvert macam gue, suasana seperti itu menjadi katalis bagi munculnya dopamine secara berlebihan. Besoknya hidup tiba-tiba menjadi tidak semonoton biasanya. Optimisme hidup kembali diperoleh, pengingat untuk kembali ke jalan yang benar pun didapat. Obrolan hasil kontemplasi selalu membuat kita tersadar bahwa kita masih diam di tempat. Orang lain sudah menjelajah kemana-mana, dan kita masih di sini aja. Orang lain sudah berbuat hal besar, sementara kita masih diam di Sushi Tei sambil ngeliatin lobster berenang. Obrolan macam ini lah yang kemudian menyulut semangat hidup. Meski cuma sesaat. Hahaha.

Persahabatan gue dan Delonski memang sedikit aneh. Kita berdua adalah manusia yang benar-benar berbeda. Delonski adalah Tionghoa murni yang tinggal di Indonesia. Sementara gue adalah produk dari campuran ras Kaukasian, Mongoloid dan Melayu. Delon adalah mantan agnostic yang kini menjelma sebagai seorang pengikut Yesus yang setia, kontras dengan gue yang… yah, dari nama gue sudah terlihat identitas kepercayaan gue.

Gue menduga bahwa kita bisa berkontemplasi bersama seperti ini karena kita percaya satu sama lain dan kita mau terbuka. Terbuka akan pandangan satu sama lain. Terbuka akan jalan hidup masing-masing. Terbuka akan filsafat hidup masing-masing. Tanpa ada penilaian terhadap apa yang diyakini oleh diri masing-masing. Hubungan pertemanan kita minim drama, kecuali pada saat Delonski stres bukan main pas dia masih kerja di sekuritas. Hahaha. I kinda lost my buddy at that time.  

 

If people could see me the way I see myself - if they could live in my memories - would anyone love me?
John Green (via kushandwizdom)

In a small group, the extrovert got all of the attention. Then there’s me, being unnoticed. Sometimes, I hate being an introvert. For the inability to express what I really want to show, to articulate what I really want to say. 

Mencari Bentuk

Kalau orang-orang baru mulai libur hari Jumat, sejak Rabu gue udah bolos kerja. Yep. Bolos kerja. Sampai Pak Direktur nyuruh sekretarisnya hubungin gue, karena tiba-tiba gue menghilang. Mungkin dia kangen kali ya sama gue, biasanya siang-siang kita suka ngobrol random.

Rabu kemarin, pikiran gue benar-benar dangkal. Udah nggak semangat kerja, ya udah lah di rumah aja. Sesimpel itu.

Anyway, terlepas dari bolosnya gue sejak hari Rabu, gue sedang dalam tahap menyusun rencana kehidupan (lagi). Sempat terpikir untuk resign setelah OJT. Gue pun mengirim lamaran pekerjaan ke UMN dan Prasmul. I know this sounds crazy.

Kamis kemarin gue dipanggil UMN untuk interview dan tes ngajar. Gue juga ketemu Arif yang udah duluan jadi dosen di UMN. Singkat kata, UMN ini masih mencari bentuk. Lebih spesifik, FE UMN ini masih belum jelas mau dibawa kemana. Mau diarahkan untuk mencetak akademisi atau professional. Kebanyakan dosen UMN adalah lulusan UI yang (kayaknya sih) teoritis abis dan nggak familiar dengan riset terapan. Melalui Arif, gue jadi mendapat informasi bahwa di UMN sebenarnya posisi tawar gue cukup tinggi. UMN (katanya) hanya punya satu dosen finance tetap.

Gue suka dengan suasana kampus UMN. Arif ke kampus bisa pakai sepatu kanvas. Asik banget. Yang nggak asik dari UMN adalah: lokasinya jauuuh banget dari peradaban dunia. Di Serpong. Itupun bukan di pusat kotanya. Wilayah di sekitar UMN masih berupa padang rumput yang luas atau ruko-ruko baru jadi yang masih belum terisi.

Singkat cerita sih, melamar ke UMN membuka mata gue lebih lebar. Kayaknya kegundahan gue selama ini disebabkan karena gue kurang pandai cari tantangan baru yang menarik. Makanya PPM jadi membosankan banget. Padahal, dibandingkan dengan UMN, PPM jauuuh lebih baik. Akses ke jurnal terbuka 24 jam dari mana saja. Mau riset, banyak data sudah tersedia, tinggal diolah saja.

…tapi lingkungan kerjanya kaku dan menyebalkan. Oke, ini mengacaukan segalanya. Coba kalau ke kampus boleh pakai kemeja dan celana jeans lalu pakai sepatu kanvas. Kecuali kalau harus ke klien, ya harus pakai baju rapi layaknya business outfit.

Berkaitan dengan pekerjaan, pertengahan tahun ini ada penilaian kinerja. Hasilnya? Gue nggak achieve. Tapi yaudah bodo amat. Gue nggak peduli. Penilaian kinerja di sini hanya mengukur seberapa banyak lo kasih pendapatan buat PPM. Jadi yaudah gue bodo amat karena gue nggak peduli dengan hal itu. Yang gue peduliin adalah: riset gue sudah lama terbengkalai akibat waktu kerja gue banyak tersita untuk pergi ke klien. Action plan gue demi bisa sekolah lagi juga terabaikan. Rasanya berdosa dan sedih sekali. Wajar jika gue gundah dan begini-begini aja.  

Gue sempat ngobrol ngalor ngidul soal studi S3 sama Prof H. tepatnya, dia yang tiba-tiba cerita tentang bagaimana studi S3 itu. Gue banyak mendapat insight dari dia. Menurut Prof H, buat S3 nggak perlu cari sekolah yang TOP, tapi cari sekolah di Eropa, yang bagus tapi nyantai. Biar bisa jalan-jalan. Setahun sebelum sekolah, harus sudah punya proposal dan punya professor yang bersedia membimbing. Lalu cari topik riset yang bisa menjawab problem di Indonesia, dan kita punya akses untuk mengaplikasikan hasil riset kita.

Gue sendiri juga bimbang sih, haruskah gue pursue S3 atau ambil second master dulu? Mengingat gue masih sangat kroco dan dangkal. Seperti UMN, gue pun masih mencari bentuk. 

Man of the day: ABI!

Sebuah kompetisi bisnis yang digelar Siam Commercial Bank dan Sasin Graduate School of Business Administration mempertemukan kami berduabelas. Kami di sini terdiri dari gue, Ara, Arif dan Salman; Ratna, Ajang, Fifin dan Tasya; Abi, Anton, Anjar dan Ibu Maya. Delapan orang pertama adalah mantan mahasiswa dan mahasiswa PPM, sisanya, mereka adalah mahasiswa dan dosen di MBA ITB. Selama berada di Thailand, kami sering bareng. Bareng dalam artian pergi jalan-jalan bareng sambil menunggu pesawat pulang, foto-foto bareng, ngobrol bareng. Mungkin, perasaan senasib dan sebangsa lah yang menyatukan kami.

Lepas dari Thailand, kita tetap saling berhubungan satu sama lain. Sempet kopdar juga ketika sudah sampai Jakarta lagi. Tepatnya, Jumat kemarin. Kita janjian untuk buka puasa bareng di sebuah mall di bilangan Jakarta Selatan. Sebelumnya, TKP yang kita rencanakan adalah Grand Indonesia, karena letaknya pas ditengah-tengah. Tapi, GI buat Anjar terlalu jauh. Akhirnya yaudah kita ganti tempat ke Senayan City. Sayangnya, pas hari H Anjar sama Arif malah nggak dating. Huft.

Jumat sore itu gue dan Ratna sampai di Senayan lebih dulu. Kita abis ada acara HUT PPM di GI. Jadi tinggal naik TransJakarta aja sebentar untuk sampai Senayan City. Nggak lama setelah kita sampai, Anton juga tiba di Senayan City. Gue dan Ratna ketemu Anton seperti adegan FTV. Kita lagi mau naik eskalator turun, terus dari arah berlawanan Anton baru turun eskalator. Anton potong rambut, gue sempat agak ragu ketika mau menyapa Anton. Yang ada gue malah nanya ke Ratna, “Na, itu Anton bukan sih?”

“Aah iya itu Anton,” kata Ratna. Terus Ratna manggil-manggil Anton. Anton sempet nggak ngeh tapi akhirnya dia nyadar juga.

Semua tempat makan di Senayan City sore itu udah full-booked. Jadilah kita waiting list di Sushi Tei. Sambil nunggu dapet tempat di Sushi Tei, gue Ratna dan Anton duduk-duduk di J.Co, sekalian buka puasa. Anak-anak PPM lainnya masih terjebak macet. Mereka naik TransJakarta. Tapi jalur TransJakarta juga terisi mobil-mobil, yaudah deh jadinya ya sama aja. Stuck. Salman bahkan memutuskan jalan kaki sampai Karet terus naik Bus Bianglala. Sementara Abi… dia harus berjuang mati-matian dari Kota untuk membelah jalanan Jakarta. Abi cerita, katanya, sore itu, orang-orang bisa parkir mobil mereka di tengah jalan, terus melipir ke pinggir jalan buat jajan gorengan.

Sekitar jam tujuh malam akhirnya kita mulai makan di Sushi Tei. Abi masih entah di mana. Sampai kita mati gaya pun, Abi belum datang juga. Sekitar jam sembilan malam barulah Abi muncul. Kita langsung menyambut Abi kayak nyambut presiden. Ternyata, Jumat malam itu Abi ada dua agenda buka puasa. Dia nggak memilih salah satu dan memilih untuk datang ke kedua acara buka puasa itu. Setelah Abi datang, kita pesen makanan lagi dan duduk di sana sambil ngobrol-ngobrol ngalor ngidul sampai Sushi Teinya mau tutup. Petanda kita harus menyudahi acara dan pulang.

Diantara kita bersembilan malam itu, Abi satu-satunya orang yang bawa kendaraan pribadi. Karena rumah Abi, gue dan Ajang berada di kawasan yang berdekatan, gue langsung minta ijin untuk nebeng, sama Ajang juga. Tapi ternyata Abi lebih dari berhati emas. Abi nebengin kita semua sampai rumah masing-masing.  

Kita bersembilan umpel-umpelan di Toyota Rush punya Abi. Sempat ada drama ketika kita mau anter Ratna pulang ke rumahnya di daerah Tomang. Beberapa dari kita kebelet pipis karena kebanyakan minum ocha. Akhirnya, kita berhenti di pom bensin deket rumah Ratna dan numpang pipis di sana. Rasanya kayak jalan-jalan ke luar kota aja, sampai numpang pipis di pom bensin.

Abis nganterin Ratna, kita anterin Tasya, Fifin sama Salman. Mereka ngekos di deket kampus. Lalu abis itu kita anterin Ara. Abis nganterin Ara, kita masuk tol dalam kota dan ngaterin Anton pulang. Rupanya, rumah Anton deket banget dengan rumah Mase. Gue rasa tanpa sadar gue pernah melewati rumah Anton, waktu jaman-jamannya kelas gue suka badminton bareng. Soalnya, rumah Anton terletak di dekat warung mi ayam tempat kita suka makan dulu, sebelum akhirnya kita main ke rumah Mase.

Habis nganterin Anton, Abi nganterin gue dan Ajang. Barulah Abi pulang ke rumah.    

Malam itu, gue jadi tau di mana letak rumah dan kosan masing-masing teman gue. kecuali rumah Ajang dan Abi tentunya. Tak hanya itu, gue juga jadi mengenal mereka lebih dekat. Ketika penghuni mobil Abi makin sedikit, obrolan yang ada diantara kami semakin intens. Lewat obrolan malam itu, gue baru tau kalau ternyata nama Abi, Nebrian, bukan berarti bahwa Abi ini lahir di Nebraska. Tetapi karena Abi “dibuat” di Nebraska. Keluarga Abi juga canggih banget, didominasi oleh akademisi. Gue juga baru tau kalau ternyata Ajang punya cukup banyak adik yang masih kecil. Paling muda baru kelas 5 SD. Orang tua Ajang pun masih sangat muda, jika dibandingkan dengan kedua orang tua gue yang umurnya sudah lebih dari setengah abad.

Abi baru sampai rumah jam setengah tiga pagi, setelah nganterin kita semua satu per satu. Jujur aja sih, baru kali ini gue bertemu dengan orang yang bersedia ngaterin pulang temannya satu per satu. Segitu pedulinya Abi dengan teman-temannya. Padahal belum ada satu bulan kita kenal satu sama lain. Padahal, Abi baru terjebak dalam kemacetan Ibukota selama empat jam. Tapi dia rela membelah Jakarta demi ngaterin kita pulang satu per satu.

Keesokan paginya, group chat ramai dengan kata-kata “terima kasih Abi” dan doa semoga Abi kelak punya pendamping hidup yang super baik, kayak Abi. Iya, Abi masih jomblo loh, hahaha. Dan jujur aja, gue sendiri tidak tahu bagaimana harus membalas kebaikan Abi.

Kalau suatu hari nanti gue disuruh untuk menyebutkan siapa teman laki-laki paling baik sedunia selain buddy gue Delonski, gue akan menyebut nama Nebrian Hardika aka Abi.  

Reality is a figment of your imagination.
perception
Have you ever had that feeling— that you’d like to go to a whole different place and become a whole different self?
Haruki Murakami, The Wind-Up Bird Chronicle (via pri5cillasanchez)

(via anditslove)

The girl with random thoughts.
Stalk her at @fitrisafira.

twitter.com/fitrisafira

view archive



aksara.pictura

Ask Fitri