…dan Allah bilang boleh. 
"Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku perkenankan bagimu." —QS 40:60

…dan Allah bilang boleh. 

"Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku perkenankan bagimu." —QS 40:60

Dreams are about to come true! Alhamdulillahirrabbil’alamiin :D
All praise to Allah, for all His Blessing to us… 

Dreams are about to come true! Alhamdulillahirrabbil’alamiin :D

All praise to Allah, for all His Blessing to us… 

I remember that time when Prof H asked me to “go back to school” which, as always, I cannot decode whether it’s an encouragement or an insult.

I said, “I’m not ready yet. I don’t know what to write on the proposal.”

"Then find it out. What kind of subject do you like?" she asked.

Neary a word came out of my mouth. I was standing still in silence.

"We’re not stupid, we’re capable of doing big things. The problem is here," she pointed her finger to her head, "Tell your brain you CAN. Put this image in your head: Thames River, Thames, Thames, Thames."

I walked out of her office with mixed up feelings.

Weeks have passed since that moment. I decided not to put Thames River into my mind and start imagining windmill and UU logo instead. I know exactly what I’m going to write: diversity, innovation, individual personality, and other relevant variables/attributes I haven’t found yet.

Karma

  • Di sebuah sharing session alumni...
  • X: Boleh diceritain ngga Kak, gimana rasanya lulus dari PPM terus masuk ke dunia kerja?
  • Gue: Rasanya... kayak kena karma. Dulu pas kuliah saya suka cabut, sekarang saya dihadapkan pada mahasiswa yang suka cabut. Dulu kalau ujian saya suka nyontek, sekarang saya mati-matian putar otak gimana caranya biar mahasiswa saya nggak nyontek.

Juru Dongeng Dadakan

Sabtu lalu gue ngajar kelas Organizational Behavior untuk kelas SMB Professional. Mahasiswanya beragam, mulai dari yang baru setahun lulus SMA, sampai dengan papa tampan beranak dua. Jujur aja, rasanya awkward banget, ngajar mahasiswa yang usianya jauh lebih tua daripada gue. Tapi ya udah, the show must go on.

Kelas dimulai dengan presentasi kelompok yang failed banget. Kecanggihan teknologi membuat mereka terlena dan males membaca buku. Gue dan Ibu Ida memberi tugas untuk membuat presentasi tentang topik chapter yang akan dibahas pada sesi itu. Maksudnya, biar pada “terpaksa” baca buku. Namun nyatanya mereka malah mendownload power point, lengkap dengan notes untuk instrukturnya. Bukunya kayaknya nggak dibaca. Gue curiga mereka baru membuka file power point tersebut beberapa menit sebelu presentasi dimulai. Soalnya, presentasinya nggak bagus, pada asal-asalan nan sotoy bukan main. Salah satu hal yang paling gue ingat adalah ketika salah satu anggota kelompok menjelaskan, “Jadi.. konflik itu ada dua macam. Pertama, constructive conflict dan relationship conflict. Nah constructive conflict ini adalah konflik yang buruk, karena bisa memecah belah tim. Kalau relationship conflict ini baru konfik yang membangun [1].”

Gue langsung tepuk jidat dan rasanya mau terjun aja dari roof top kampus. Kentara sekali mereka ini nggak belajar.

Gue berusaha menghargai effort mereka (effort?) dengan menyimak serius presentasi mereka, padahal dalam hati rasanya campur aduk: pengen ketawa ngakak karena prsentasinya udah kayak dagelan (Tora yang asal bunyi tapi pedenya selangit dan gemar melucu), tapi sedih juga, mengapa mahasiswa gue begini amat ya? Seakan-akan mereka kuliah hanya untuk mengikuti normalitas manusia kebanyakan.

Di sisi lain, gue jadi berefleksi ke masa saat gue masih seperti mereka, masih jadi mahasiswa. Gue juga pernah presentasi asal bunyi seperti itu. Gue juga pernah males banget kuliah, karena nggak suka dengan mata kuliahnya. Sehingga, gue tidak pernah membaca textbook mata kuliah tersebut. Karena nggak baca buku, jadi nggak ngerti. Pas disuruh presentasi, jadinya asal bunyi dan super sotoy. Lalu waktu ujian juga setengah mati mengarang bebas, paling nggak biar dapet nilai “ongkos nulis.”

Dulu, gue ketika gue melakukan presentasi dengan penuh kesotoyan, gue tidak pernah ambil pusing. Bodo amat. Yang penting udah presentasi. Terserah deh, Pak Dosen mau kasih nilai berapa. Gue tidak pernah berpikir bahwa Pak Dosen mungkin merasa sedih karena mahasiswanya terkesan tidak niat kuliah.

Setelah Tora dan kawan-kawan selesai presentasi, sesi tanya jawab dimulai. Tora dan kawan-kawan di-skak-mat oleh pertanyaan Shella, “Di awal chapter kan dibilang kalau konflik itu dulunya selalu dianggap sesuatu yang buruk. Padahal sebenarnya kan konflik juga bisa jadi sesuatu yang baik ya… boleh dijelasin nggak, contoh konflik yang bagus itu kayak gimana?”

Rian, teman satu kelompok Tora yang hari itu sama-sama presentasi mencoba untuk menjawab. Rian menggambar sebuah Cartesian Diagram di flipchart. Gue mulai berpikir jangan-jangan kelas OB hari ini akan berubah menjadi kelas Matematika Bisnis Dasar atau bahkan Ekonometrik.

Selesai menggambar diagram, Rian mulai menjelaskan sambil menarik garis dengan persamaan Y = X – 1; X > 0; Y < 0, “Jadi, ini konflik yang buruk…” ujar Rian. Lalu kelas mendadak hening. Di kejauhan terdengar suara jangkrik.

“Okay, silakan duduk.” Dengan lagak sok berwibawa gue memecah keheningan, “Tepuk tangan dulu dong buat Kelompok 2.”

Kelas yang tadinya sunyi kayak kuburan menjadi riuh sesaat. Setelah mahasiswa kembali ke tempat duduknya, gue maju ke depan kelas dan berdiri di tengah. Gue mulai mengambil alih kelas dengan menjawab pertanyaan dari Shella. Selesai gue ngomong, ada Dityo yang ikut-ikutan bertanya. Dia bertanya tentang bagaimana pandangan gue tentang Ahok, yang waktu itu menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta. Dityo bilang bahwa cara Ahok untuk membuat Jakarta lebih baik justru menuai banyak konflik dengan sebagian rakyat Jakarta.

Belum sempat gue menjawab, Tora tiba-tiba ikut berucap, “Iya Bu, kayak Prabowo tuh gimana Bu, kan dia kayak nggak mau kalah gitu sama Jokowi. Itu konflik juga kan Bu?”

Dityo waktu itu pakai polo shirt warna merah, senada dengan baju Tora hari itu. Iseng, gue memberi komentar, “Kalian ini simpatisan PDI sama Gerindra ya? Bajunya merah, nanyanya soal Ahok sama Jokowi-Prabowo.”

Tora yang emang dasarnya nyablak langsung berdiri sambil memamerkan kaosnya, “Iya Bu, saya dukung Jokowi, Bu!”

Dityo, papa tampan beranak dua ikut-ikutan berdiri, “Boong tuh Bu, Tora. Dia dukungnya Prabowo, Bu. Tukang bikin macet di Ring Satu.”  

Gue mulai merasa ragu bahwa Radit ini adalah papa beranak dua. Kelakukan Radit dan Tora tak ubahnya dua orang comic yang sedang melakukan stand up comedy. Tetapi, sesungguhnya kelakuan mereka berdua lah yang membuat kelas menjadi hidup.

Selesai menjawab pertanyaan mereka, gue mulai menceritakan beberapa kasus pendek tentang konflik. Semalaman gue bolak-balik membaca ulang kasus tentang Semen Indonesia dan Nutrifood, konflik Sampit; gue juga berusaha mengingat kembali jalan cerita film The Internship dan The Last Samurai. Saat itu gue benar-benar seperti mendapat karma. Gue baru benar-benar merasakan bahwa mengajar mahasiswa itu tidak mudah.

Gue dulu suka cabut kelas kalau dosennya membosankan. Gue tidak peduli apakah nanti pada saat ujian gue bisa ngerjain atau nggak. Waktu masih duduk sebagai mahasiswa, gue tidak mengerti bagaimana sulitnya mempersiapkan diri untuk mengajar mahasiswa. Berdiri di depan kelas dan menjalankan peran sebagai seorang pengajar tidak semudah yang gue bayangkan sebelumnya. Agar bisa menyampaikan materi yang utuh, tidak hanya sesederhana menyiapkan presentasi dalam power point saja. Dibutuhkan waktu kurang lebih tiga hari untuk menyiapkan satu sesi perkuliahan. Dimulai dari membaca buku teks, menyiapkan power point, browsing contoh kasus dan mempelajarinya, hingga berlatih untuk bicara di depan kelas.

Untuk mata kuliah yang sifatnya teori banget, perlu disiapkan analogi tertentu sehingga mahasiswa bisa paham akan materi yang gue bawakan. Tidak hanya itu, gue juga perlu menambahkan contoh kasus yang lekat dengan kehidupan sehari-hari agar mereka lebih mudah untuk membayangkannya. Mengajar mata kuliah seperti Organizational Behavior yang benar-benar teori banget, memaksa gue untuk menjadi juru dongeng dadakan di kelas.

Sabtu siang itu, gue menceritakan dongeng tentang konflik antar etnis di Sampit yang disebabkan karena adanya perebutan sumber daya antara etnis Dayak dan kaum pendatang dari Madura. Gue bercerita tentang pergolakan yang terjadi di dalam tubuh Semen Indonesia ketika terjadi isu privatisasi pada awal masa reformasi. Konflik antar etnis dan konflik antar generasi gue jabarkan dengan mengambil contoh kasus dari film The Last Samurai dan film The Internship.

Sambil bercerita, gue melihat raut wajah mahasiswa gue siang itu. Mereka semua terdiam. Pikiran gue melayang pada saat pertama kali diterima sebagai staf di Sekolah Tinggi Manajemen PPM. Waktu itu, banyak sekali dosen senior yang bilang bahwa mereka stres berat kalau ngajar mahasiswa SMB. Mahasiswa SMB itu nggak bisa diatur, suka makan di kelas, suka terlambat, suka rebut di kelas, suka asik sendiri di kelas, dan sebagainya. Tetapi, Sabtu siang itu gue mendapatkan kenyataan yang kontras dengan cerita dari para dosen senior.

Karena kelas terasa terlalu hening, gue bertanya, “Kalian kok diam aja sih? Ngantuk ya?”

“Enggak Bu, kita lagi nyimak. Ceritanya seru.”      



[1] Justru sebaliknya, constructive conflict adalah konflik yang membangun. Sementara relationship conflict adalah konflik yang udah bersifat pribadi, bukannya fokus pada pemecahan masalah tapi malah fokus pada konflik personal. 

Obrolan Meja Makan

  • Gue: Aku mau sekolah lagi, tapi agak susah nih cari sekolahnya.
  • Ibu: Emang maunya ke mana?
  • Gue: Belanda.
  • Ibu: Ke Utrecht aja, atau Wageningen.
  • Gue: Nyeh, itu mah desa tempat Ibu sekolah dulu.
  • Ibu: Ke Australia aja deh, atau nggak Singapore.
  • Gue: Disarankan dosen aku ke Eropa. Ibu takut ditinggal jauh-jauh ya?
  • Ibu: Engga, Ti mau ke manapun Ibu dukung.

Akhir pekan ini, alih-alih ngurusin kerjaan, gue malah browsing tentang universitas yang menyediakan program Behavioral Science atau Organizational Science yang research based dan tergabung dalam kelompok universitas tujuan buat beasiswa LPDP. Kebanyakan universitas di Londo punya persyaratan bahwa pelamar harus punya gelar sarjana dari program ilmu sosial. Macemnya psikologi, sosiologi, antropologi, dan sejenisnya.

Agak sedih karena duluuuu banget pas lulus SMA gue maunya sekolah sosiologi. Tapi bapake malah masukin gue ke sekolah dagang. Sekarang mau sekolah behavioral/organizational science jadi agak susah.

Tapi yaa harus bersyukur juga, Allah sudah menunjukkan jalan. Semester ini gue lebih banyak ngajar Organizational Behavior daripada mata kuliah keuangan. Saatnya menggali ilmu sedalam-dalamnya, kembali menekuni riset yang terbengkalai, dan belajar IELTS tentunya.

Kalau dipikir-pikir, “murah” banget ya gue, rela nunggu enam tahun buat kembali menapaki jalur hidup yang gue inginkan. Tapi ya udah, orang tua gue sudah puas anaknya nurut mau sekolah dagang sampai lima tahun lamanya. Sekarang saatnya memenuhi ambisi pribadi untuk sekolah behavioral science.

Bismillahirrahmanirrahim, semoga Allah meridhai.

I saw two kittens on my way to school. They just sat there, in the middle of the street, looking at people passing by. I wonder how it feels to be those kittens. – View on Path.

I saw two kittens on my way to school. They just sat there, in the middle of the street, looking at people passing by. I wonder how it feels to be those kittens. – View on Path.

The girl with random thoughts.
Stalk her at @fitrisafira.

twitter.com/fitrisafira

view archive



aksara.pictura

Ask Fitri